Selasa, 24 Mei 2011

Indikator Kesehatan Wanita

INDIKATOR KESEHATAN WANITA, Terdiri dari :
A.                 KESEHATAN IBU DI INDONESIA
Kehamilan, persalinan dan nifas  merupakan penyebab kematian, penyakit dan kecacatan pada perempuan usia reproduksi di Indonesia. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002/2003 melaporkan angka kematian ibu (AKI) sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2006 sebesar 226/100.000 kelahiran hidup. Menurut WHO penyebab tingginya angka kematian ibu dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu infeksi, perdarahan dan penyulit persalinan sedangkan 5 penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan postpartum, sepsis puerperal, abortus, eklamsia, dan persalinan terhambat.
            Rendahnya kualitas hidup sebagian besar perempuan Indonesia disebabkan oleh masih terbatasnya wawasan, lingkungan sosial budaya yang belum kondusif terhadap kemajuan perempuan dan belum dipahaminya konsep gender di dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu  kerena kehamilan, persalinan, nifas dalam satu tahun dibagi dengan jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama  dengan persen atau permil.

Rumus:
AKI=  Jumlah kematian ibu karena
         Kehamilan  kelahiran dan nifas  X 100% (1000)
Jumlah kelahiran hidup
Pada tahun yang sama
Kasus kekerasan dalam keluarga, perdagangan, tekanan budaya, adat istiadat, pendidikan rendah dan dominasi pria dalam rumah tangga masih menimpa sebagian besar perempuan. Pemerintah daerah belum memiliki kesungguhan mengangkat harkat dan keijakan perempuan secara keseluruhan terutama menekan angka kematian ibu melahirkan. 
B.                  KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI INDONESIA
Ada sekitar 60.861.350 remaja berusia 10-24 tahun, atau sekitar 30,2 % dari total penduduk di indonesia
            Angka pernikahan dini  ( menikah sebelum usia 16 tahun) hampir dijumpai diseluruh  propinsi di indonesia. Sekitar 10 % remaja melahirkan anak pertamanya pada usia 15-19 tahun. Kehamilan remaja akan meningkatkan resiko kematian dua atau empat kali lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hamil pada usia lebih dari 20 tahun. Demikian pula resiko kematian bayi, 30% lebih tinggi pada usia remaja dibandingkan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu usia 20 tahun atau lebih (GOI&UNICEF,2000).
            Kebayakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Selain itu mereka juga tidak memiliki akses terhadap pelayanan dan informasi kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi. Informasi biasanya didapat dari teman atau media yang biasanya sering tidak akurat. Hal ini yang menyebabkan remaja perempuan rentan terhadap kematian maternal, kematian anak dan bayi, aborsi tidak aman, IMS, kekerasan/pelecehan seksual dll.

C.                  KELUARGA BERENCANA
Jumlah penduduk Indonesia menempati urutan ke 4 terbesar setelah China, India, USA. Faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran. Tingginya angka kelahiran mencerminkan kurangnya cakupan keluarga berencana dan tujuan dari keluarga berencana yang sepenuhnya belum tercapai.
Ketersediaan dan akses terhadap informasi dan pelayanan KB, dapat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Jika perempuan mempunyai akses terhadap kontrasepsi yang aman dan efektif, diperkirakan kematian ibu menurun hingga 50 % termasuk penurunan resiko kesehatan reproduksi yang terkait dengan kehamilan, persalinan dan aborsi tidak aman.
Angka kesuburan umum adalah jumlah lahir hidup pertahun dibagi jumlah wanita usia subur pertengahan tahun dalam persen / permil.

Rumus:
AKU= Jumlah lahir hidup per tahun X 100% (1000)
          Jumlah penduduk wanita
    Pertengahan tahun
 
D.                 INDIKATOR PENGHASILAN
Penghasilan perempuan meningkat, maka pola pemenuhan kebutuhan akan bergeser dari pemenuhan kebutuhan pokok saja, menjadi pemenuhan kebutuhan lain, khususnya peningkatan kesehatan perempuan. Penghasilan berkaitan dengan status sosial ekonomi , dimana sering kali status ekonomi menjadi penyebab terjadinya masalah kesehatan pada wanita. Misalnya banyak kejadian anemia defisiensi fe pada wanita usia subur yang sering kali disebabkan kurangnya asupan makanan yang bergizi seimbang. Anemia pada ibu hamil akan lebih memberikan dampak yang bisa mengancam keselamatan ibu.

E.                  INDIKATOR PENDIDIKAN
Pendidikan berpengaruh kepada sikap wanita terhadap kesehatan, rendahnya pendidikan membuat wanita kurang peduli terhadap kesehatan. Mereka tidak mengenal bahaya atau ancaman kesehatan yang mungkin terjadi terhadap diri mereka. Sehingga walaupun sarana yang baik tersedia mereka kurang dapat memanfaatkan secara optimal karena rendahnya pengetahuan yang mereka miliki. Kualitas sumber daya manusia sangat tergantung pada kualitas pendidikan, dengan demikian program pendidikan mempunyai andil besar terhadap kemajuan sosial ekonomi bangsa.
a)      Angka melek huruf :
Sampai tahun 2004, persentase perempuan yang melek huruf terus mengalami peningkatan, meskipun persentasenya masih lebih rendah dari laki-laki. Secara rasional angka melek huruf sudah mencapai 87,9%, pada laki-laki sebesar 92,3% dan pada perempuan sebesar 83.5%.
b)      Rata-rata lama sekolah :
Tahun efektif bersekolah pada umur 15 tahun sebesar 7.09% dimana pada laki-laki 7,62% dan perempuan 6,57%. Angka ini akan menunjukkkan bahwa secara rata-rata pendidikan penduduk mencapai jenjang pendidikan kelas I SLTP.
c)      Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan :
Pada tahun 2003 penduduk usia lebih dari 10 tahun yang berpendidikan SLTP hanya sebanyak 36,21%, pada laki-laki sebesar 39.87% dan pada perempuan 32.57%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa taraf pendidikan perempuan belum setara dengan laki-laki, hal ini dikarenakan terbentuk kontruksi yang terbentuk dari masyarakat. Pendidikan yang tinggi dipandang perlu bagi kaum wanita untuk meningkatkan taraf hidup, membuat keputusan yang menyangkut masalah kesehatan sendiri. Seorang wanita yang lulus dari perguruan tinggi akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan mampu berprilaku hidup sehat bila dibandingkan dengan seorang wanita yang memiliki pendidikan rendah. Meningkatnya pendidikan berdampak pada pengalaman dan wawasan yang semakin luas, pendidikan dapat meningkatkan status sosial dan kedudukan seorang perempuan didalam masyarakat sehingga perempuan dapat meningkatkan aktifitas sehari-hari maupun aktifitas sosialnya. Menurut profil klasifikasi perempuan diberbagai negara menunjukkan bahwa pendidikan, pekerjaan dan kesehatan perempuan Indonesia dinilai sangat buruk.

 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Indikator Status Kesehatan Wanita
1.                  Sosial Ekonomi
   v    Kemiskinan
   v    Status wanita yang rendah

2.                  Faktor Pelayanan Kesehatan
   v    Faktor penolong
   v    Faktor sarana
   v    Faktor akses ke fasilitas kesehatan

3.                  Faktor Personality
   v   Perawatan antenatal
   v   Paritas
   v   Gizi kurang
   v   Keselamatan kerja

4.                  Faktor Psikologi
   v    Konflik dan peran seksual
   v    Riwayat penyalahgunaan seksual

0 komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service